Induksi GA bisa dianalogikan dengan menerbangkan armada. Setelah semua preflight check dan re-check oke, maka dimulai ROG.  Analgetik beronset cepat dan durasi singkat diberikan untuk memudahkan induksi, seperti hanlnya membersihkan runway dari kerikil besar dan alang-alang. Kemudian sedatif, ibarat gimbal throttle,  diberikan sesuai AUW hingga dirasa cukup adekuat sampai pesawat benar-benar tinggal landas. Setelah dipastikan tidak ada stall, lalu muscle relaxant masuk. Muscle relaxant ini tidak bisa disamakan dengan satu channel manapun di radio, tapi bila diibaratkan mirip kumpulan/mixing beberapa hal, yaitu: retracting landing gear & flap, sehingga pesawat akan lebih laju karena tanpa drag. Pada saat nanti pesawat dijadwalkan landing, landing gear harus benar-benar siap keluar dengan kokoh sebelum pesawat menyentuh runway.

Keseluruhan mesin anestesi ibarat sistem radio control. Mulai dari transmitter, receiver, crystal, servo, ESC, dan motornya. Corrugated adalah kabel-kabel, meskipun awet dan tanpa software tapi tetap harus patent. Dalam hal ini belum didapatkan analogi untuk bellows, kira-kira mirip apa. Karena pesawat yang ini bukan pesawat beneran, maka pemantauan kondisi penerbangan utama adalah melihat monitor. Loop, invert, stolten, dan lain-lain tidak bisa dilakukan, dan jangan sampai terjadi! Target utama adalah mengendalikan pesawat agar tetap dalam kondisi level sedangkan faktor penganggu selalu ada ,  baik dari luar maupun dalam. Sama seperti mempertahankan armada dari crosswind, downwind dan upwind mendadak. Sedangkan faktor internalpun ada, misalnya: Center of  Gravity (CG)-nya kurang pas, wing tidak simetris, setting rudder dan elevatornya kurang presisi dan sebagainya. Tapi justru disitulah kita belajar. Belajar mengusahakan agar pesawat tetap level dengan selalu menjaga gimbal.

Ada banyak pendapat yang berbeda mengenai kelayakan terbang, tapi secara umum bisa disimpulkan menjadi dua hal. Pendapat pertama mengatakan bahwa, jika pesawat tidak layak terbang lebih baik dibatalkan saja daripada jadi masalah. Sedangkan pendapat kedua menyatakan bahwa,  kita harus berani menerbangkan pesawat dengan kelainan-kelainan, karena jika tidak demikian kita akan menjadi pilot yang penakut dan tidak bisa menerbangkan pesawat rusak, bahkan belum tahu bahayanya pesawat rusak.