Sebuah paradoks. Hingga saat ini, frase: “Cari Penyakit” lebih diartikan sebagai kurang kerjaan, atau mencelakakan diri. Padahal makna tadi hanyalah makna kiasan. Makna yang sebenarnya yakni benar-benar-benar mencari penyakit, dalam hal ini mencari diagnosis.

Hal yang sulit adalah mencari penyakit yang tidak kelihatan. Padahal tindakan ini harus dilakukan dengan cermat untuk menghindari kecelakaan. Untuk mencarinya dibutuhkan pengalaman dan kebiasaan menemukan penyakit penyerta lainnya.

Sebagai ilustrasi saja, pada kasus kelainan kongenital harus dicari kemungkinan defek kongenital pada organ vital lainnya.
A: adakah malformasi jalan nafas.
B: apakah nafasnya reguler. bagaimana dengan suara parunya kanan maupun kiri dari atas hingga ke basal, harus dikonfirmasi dengan foto thoraks, mungkinkah ada kolaps paru atau pneumothoraks,
C: mungkinkah ada kelainan jantung bawaan, periksa dengan tenang, lalu diprovokasi dengan menangis apakah timbul kebiruan, bagaimana dengan ginjal, lalu bagaimana dengan gambaran darahnya.

Pesan Guru Besar pekan lalu: ketahui setiap lubang dalam perjalanan, sehingga kita siap dan selamat dengan cara menghindari lubang-lubang tersebut.