Thoracic Epidural Anesthesia (TEA) for IACA 2012

  • May 11, 2012 06:11

Black. Still a mainstay color this year. No other ideas yet. For 90x120cm area, i made it with 300 dpi on 18×26 cm canvas under CMYK color. Paper used: luster material, waterproof. Because of unavailable canvas textured lamination, so the lamination finished with matt plastic was chosen.  Wish I could present this poster well.

This tubing container is suitable for poster inside. Check for other equipment. Ready for IACA 20112.

Laringoskop s/c

  • May 20, 2011 20:32

Sesuai pakem, laringoskop selalu berbaring miring di sudut kiri atas. Tetapi pagi ini dia demam, menyengat sangat panas. Hal yang paling memungkinkan adalah: short circuit.

Short circuit atau biasa disingkat s/c, merupakan kondisi dimana arus berjalan “singkat” diantara dua kutub yang berlawanan tanpa impedansi elektrik. Dalam bahasa ibu, sering disebut dengan istilah korsleting atau konslet. Lawan katanya adalah open circuit.

Secara elektrik, laringoskop merupakan piranti yang minim serat kabel. Hanya pin konduktor sepanjang beberapa senti dengan pegas di sumbu badan sebagai penghantar kutub positif, dan logam badannya sebagai penghantar arus negatif. Diantara keduanya dipisahkan oleh bahan isolator sehingga tidak terjadi s/c. Hal ini beberapa kali terjadi. Sekalinya [sekalinya..??], karena ujung penghubung kutup positif laringoskop menyentuh badan blade. Kelihatannya sepele, tapi belum pernah terduga s/c terjadi pada laringoskop yang kering, baru dan kelihatan baik-baik saja.

Ah, tidak penting.

1

  • October 13, 2010 02:28

A 77-years, 35 kg, male patient with suspicious epidermoid carcinoma at his left cheek about 8x10x12cm. It fixed, looked big but bleeding-free. Because of its mass, he cannot open his mouth more than 2-3 centimeters. Generally the patient looked fine. He got mild cough in a recent couple days. Vital signs, physical examination, ecg and laboratory finding at the normal value. A chest x-ray photograph shows no pulmonary and cardiac defect, neither lung metastasis.
At the operating room vital signs show NIBP 134/78 mmhg, HR 89 /min, SpO2 96-97% didn’t arise while 3 liter per minute oxygen given via nasal canula. Premedication with antiemetic, tranexamic acid 500 mg and  phytomenadion 10 mg. So much mucous secret heard at his airway. Tracheostomy performed by the otorhinolaringologist while patient awake under local anesthetics, 50 mcg fentanyl intravenous and 50 mg pethidine in 500ml Ringer’s Lactat solution at maintenance flow.
Sedation performed with 100 mg Propofol intravenously. Maintained with halothane 0.8%, O2:N2O=50:50, without any muscle relaxing agent. For intravenous fluid resuscitation, established two i.v lines. Standard monitoring performed as routine done. At minute 70, BP fall without morphologic change of ecg. It was then maintained with fluid resuscitation and ephedrine intermittent several times. Halothane reduced to 0,6%, N2O turned-off. Blood transfusion given after 1 litre 130/0,4 colloid, while bleeding tends massively.
Operation lasts 3 hours, overall it done well. Patient then back to his ward after 30 minutes evaluated at recovery room.

Blok Pleksus Brakhiales

  • October 11, 2010 01:39

Beberapa blok dari inervasi Pleksus Brakhiales yang dapat dilakukan untuk prosedur tindakan di lengan atas diantaranya:

Blok Pleksus Interskalenus (Meier)
Subyek berbaring, menoleh ke kontralateral dan agak mengangkat kepala. Saat terlihat tepi lateral m.strenokleidomastoid tampak “interscalenus groove” diantara m.skalenus anterior dan medial. Insersi jarum setinggi “thyroid notch — yakni kira-kira dua sentimeter diatas tulang krikoid, pada tepi posterior m.sternokleidomastoid. Insersi menyusuri area interscalenus dengan arah kaudal & lateral, pada sudut 30 derajat terhadap kulit. Respon stimulus: m.deltoid dan m.biseps. Injeksi agen lokal saat respon stimulus adekuat tercapai pada 0,3 sampai 0,1 mA. Sebagai patokan, arah insersi yaitu sepertiga tengah klavikula. Arteri subklavia merupakan penanda tepi kaudal cekungan interskalenus. Ini dapat diidentifikasi dengan palpasi atau dengan bantuan Doppler Vaskuler.

Perbedaan dengan pendekatan klasik Winnie; lokasi tusukan yaitu pada 1-2 cm diatas tusukan Winnie. Arah tusukan pada teknik Meier kearah kaudal lateral, sedangkan pada teknik Winnie kearah medial dorsal kaudal. Dengan demikian lebih mudah mencapai pleksus. Pendekatan Meier juga cocok untuk penggunaan kateter kontinyu.

Blok Infraklavikular Vertikal (VIB) – Kilka, Geiger, Mehrkens
Subyek berbaring, tandai prosesus akromion ventralis dan jugular notch. Tarik garis lurus diantara keduanya, tandai pada pertengahannya. Insersi harus tepat dibawah klavikula, benar-benar pada bidang sagital kearah vertical. Pleksus dapat tercapai pada kedalaman 3 sentimeter, maksimal 5 senti! Respon stimulus berupa fleksi jari, diharapkan tetap tercapai pada 0,3 sampai 0,1 mA. Blok ini berisiko terjadinya pneumotoraks, sehingga pastikan untuk menghindari:

  • tusukan terlalu jauh ke medial,
  • melenceng dari bidang sagital,
  • menggunakan jarum >6cm.

Saat telunjuk menempel prosesus korakoid di sisi lateral dan klavikula disisi cranial, tepi medial telunjuk sebagai marker tempat injeksi. Teknik ini harus selalu menggunakan stimulator.
Teknik Raj, dimodifikasi oleh Borgeat.
Marker sama, pada pertengahan jugular notch dan ujung anterior prosesus akromion. Tusukan pada satu sentimeter dibawah klavikula. Tangan ipsilateral abduksi 90 derajat dan elevasi 30 derajat. Jarum mengarah ke lateral, pada sudut 45-60 derajat menuju titik paling proksimal dimana arteri aksilaris masih teraba pulsasinya. Risiko pneumotoraks lebih rendah karena arah jarum ke lateral

“Mencari Penyakit”

  • August 19, 2010 00:07

Sebuah paradoks. Hingga saat ini, frase: “Cari Penyakit” lebih diartikan sebagai kurang kerjaan, atau mencelakakan diri. Padahal makna tadi hanyalah makna kiasan. Makna yang sebenarnya yakni benar-benar-benar mencari penyakit, dalam hal ini mencari diagnosis.

Hal yang sulit adalah mencari penyakit yang tidak kelihatan. Padahal tindakan ini harus dilakukan dengan cermat untuk menghindari kecelakaan. Untuk mencarinya dibutuhkan pengalaman dan kebiasaan menemukan penyakit penyerta lainnya.

Sebagai ilustrasi saja, pada kasus kelainan kongenital harus dicari kemungkinan defek kongenital pada organ vital lainnya.
A: adakah malformasi jalan nafas.
B: apakah nafasnya reguler. bagaimana dengan suara parunya kanan maupun kiri dari atas hingga ke basal, harus dikonfirmasi dengan foto thoraks, mungkinkah ada kolaps paru atau pneumothoraks,
C: mungkinkah ada kelainan jantung bawaan, periksa dengan tenang, lalu diprovokasi dengan menangis apakah timbul kebiruan, bagaimana dengan ginjal, lalu bagaimana dengan gambaran darahnya.

Pesan Guru Besar pekan lalu: ketahui setiap lubang dalam perjalanan, sehingga kita siap dan selamat dengan cara menghindari lubang-lubang tersebut.